Sejarah Kerajaan Kalingga Beserta Peninggalannya

Sejarah Kerajaan Kalingga Beserta Peninggalannya - Istilah Kalingga berawal dari kata "Kalinga" yang maknanya kerajaan India di bagian selatan. Pendiri kerajaan ini berasal dari Orissa di India yang terdiri dari beberapa kelompok orang. Orang orang Orissa tersebut melarikan diri karena Maharaja Asoka menghancurkan daerah mereka. Untuk itu pada abad ke 6 kerajaan Kalingga didirikan dan pada abad ke 7 kerajaan ini dibubarkan. Lantas bagaimanakah sejarah kerajaan Kalingga itu? Bagaimana masa kejayaan kerajaan Kalingga? Bagaimana masa kehancuran kerajaan Kalingga? Apa saja bentuk peninggalan kerajaan Kalingga?
Materi sejarah kerajaan kalingga sebagai salah satu peradaban kerajaan kuno di Indonesia
Sejarah kerajaan kalingga
Menurut perkiraan letak kerajaan Kalingga berada di kecamatan Keling Utara gunung Muria, Jawa Tengah. Namun letaknya sekarang berada dekat di Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pekalongan. Kerajaan Kalingga beribu kota di Keling (Jepara). Kerajaan tersebut menggunakan bahasa Melayu Kuno Sansekerta dan menganut agama Hindu Budha. Penduduk di Kerajaan Kalingga sebenarnya menganut agama Budha pada umumnya. Hal ini dikarenakan dalam sejarah kerajaan Kalingga di waktu itu terjadi perkembangan agama Budha yang cukup pesat sehingga di daerah Keling banyak didatangi oleh pendeta cina dan selama tiga tahun menetap disana.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap kerajaan Indonesia memiliki sejarahnya masing masing. Untuk itu kehidupan ekonomi, sosial dan politiknya juga berbeda. Bahkan masa kejayaan dan masa kehancuran setiap kerajaan juga berbeda beda. Seperti halnya kehidupan ekonomi Kerajaan Kalingga, kehidupan sosial Kerajaan Kalingga, kehidupan politik Kerajaan Kalingga, masa kejayaan Kerajaan Kalingga, dan masa kehancuran Kerajaan Kalingga. Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang sejarah Kerajaan Kalingga dan peninggalan Kerajaan Kalingga. Untuk lebih jelasnya dapat anda simak di bawah ini.

Sejarah Kerajaan Kalingga Beserta Peninggalannya

Mempelajari sejarah kerajaan kuno di Indonesia memang sangat menyenangkan. Disamping kita mendapatkan ilmu baru kita juga bisa belajar berbagai peristiwa positif dan negatif dari sejarah kerajaan itu sendiri. Selain sejarah kerajaan kalingga sebenarnya terdapat berbagai peradaban kerajaan lain yang bisa kita pelajari.

Dalam pembahasan sejarah berdirinya kerajaan kalingga ini saya akan menjelaskan tentang kehidupan ekonomi Kerajaan Kalingga, kehidupan sosial Kerajaan Kalingga, kehidupan politik Kerajaan Kalingga, masa kejayaan Kerajaan Kalingga, dan masa kehancuran Kerajaan Kalingga. Selain itu saya juga akan menjelaskan tentang beberapa bentuk peninggalan kerajaan Kalingga. Di kala itu kerajaan Kalingga dikuasai oleh Ratu Sima. Ratu Sima digambarkan sebagai seorang penguasa yang taat dan tegas terhadap peraturan di kerajaan Kalingga yang berlaku. Pada tahun 674 - 732 M, Kerajaan Kalingga diperintah oleh Ratu Sima ini.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kalingga

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kejayaan suatu kerajaan adalah dari segi ekonomi dan kehidap sehari hari rakyatnya. Kehidupan ekonomi masyarakat pada saat itu menorehakn fakta baru dalam sejarah kerajaan kalingga yang akan terus membekas. Lantas seperti apa kehidupan dan perekonomian kerajaan kalingga kuno?

Sejarah kerajaan Kalingga yang pertama akan saya jelaskan membahas tentang kehidupan ekonomi di kerajaan tersebut. Kerajaan Kalingga memiliki tumpuan perekonomian pada sektor pertanian dan perdagangan. Kalingga dapat diakses dengan mudah oleh pedagang luar negeri karena berada dekat dengan Pesisir Pantai dibagian utara Jawa Tengah. Kerajaan ini menghasilkan beberapa barang yang dapat dijual seperti emas, gading gajah, kulit penyu, cula badak dan perak. Bahkan disana terkenal dengan minuman dari bunga aren dan bunga kelapa yang dibuat oleh penduduk Kalingga.

Kehidupan Sosial Kerajaan Kalingga

Sejarah berdirinya kerajaan Kalingga selanjutnya ialah kehidupan sosial di kerajaan tersebut. Kerajaan Kalingga memiliki kehidupan yang berlangusng dengan teratur dan baik karena ketertiban dan ketentraman di kerajaan ini tidak terlepas dari kepemimpinan Ratu Sima. Ratu Sima menegakkan hukum dengan adil dan tidak membedakan apakah orang tersebut kerabatnya sendiri ataupun rakyat. Ketegasan hukum Ratu Sima sampai ke telinga Raja T-Shih yakni kaum Persia dan muslim Arab. Berita yang ia dengar tersebut berusaha diuji kebenarannya dengan cara anak buah raja T-Shihh diberikan perintah untuk menaruh satu kantong emas di jalanan daerah Kalingga. Melihat kantong tersebut penduduk Kalingga berusaha untuk menghindarinya dan sampai tiga tahun tidak ada yang berani menyentuh kantong tersebut.

Namun di suatu hari kantong itu diinjak oleh Putra Mahkota dengan tidak sengaja sampai membuat isinya berceceran. Kemudian Ratu Sima marah mendengar peristiwa tersebut dan putra Mahkota diberikan hukuman mati. Namun para Menteri meminta permohonan ampun kepada Ratu Sima agar Putra Mahkota tidak dihukum mati. Pada akhirnya jari putra Mahkota dipotong atas perintah Ratu Sima karena berani menyentuh kantong emas itu. Inilah yang menjadi bukti dari kepemimpinan Ratu Sima yang tegas.

Kehidupan Politik Kerajaan Kalingga

Sejarah kerajaan Kalingga selanjutnya ialah kehidupan politik di kerajaan tersebut. Pimpinan kerajaan Kalingga pada abad ke 7 ialah Ratu Sima. Penegakan hukum di kerajaan Kalingga berjalan dengan baik sehingga di Kalingga tersebut terdapat ketentraman dan ketertiban yang baik pula. Ratu Sima mempunyai cucu yang namanya Sanaha berdasarkan naskah Parahhayang. Kemudian Sanaha menikah dengan raja kerajaan Galuh yang bernama Raja Brantasenawa. Sanaha mempunyai anak yang namanya Sanjaya (nantinya akan menjadi Raja Mataram Kuno). Namun pada akhirnya kerajaan Sriwijaya dapat menaklukkan kerajaan Kalingga selepas peninggalan Ratu Sima.

Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga

Sejarah kerajaan Kalingga selanjutnya ialah masa kejayaan di kerajaan tersebut. Masa keemasan kerajaan Kalingga berlangsung pada pemerintahan Ratu Sima karena banyak raja kerajaan lainnya yang penasaran, segan, kagum dan hormat kepadanya. Kebudyaaan apapun dimasa kejayaan ini menjadi berkembang. Bahkan secara harmonis juga terjadi perkembangan agama Budha sehingga sekitar kerajaan Kalingga sering dinamakan dengan Di Hyang. Di Hyang merupakan sebutan bagi tempat dua kepercayaan (Budha dan Hindu) bersatu.

Dalam masa kejayaan Kerajaan Kalingga terdapat sistem pertanian yang diadopsi oleh Ratu Sima untuk bercocok tanam seperti pada kerajaan kakak mertuanya. Sistem pengairan yang dirancangnya dinamakan dengan Subak. Maka dari itulahh tercipta istilah Tanibhala dari kebudayaan baru tersebut atau mata pencaharian masyarakat dengan cara bercocok tanam dan bertani.

Masa Kehancuran Kerajaan Kalingga

Setiap awal pasti akan mencapai sebuah akhir, itulah pepatah lama yang sering diucapkan untuk berbagai kerajaan kuno. Tidak bisa dipungkiri bahwa setelah mencapai masa kejayaan suatu kerajaan akan mengalami masa kehancuran. Runtuhnya kerajaan kalinggan tentu sangat membekas pada sejarah mengingat kerajaan ini adalah salah satu peradaban kuno di Indonesia.

Sejarah berdirinya kerajaan Kalingga selanjutnya ialah masa kehancuran di kerajaan tersebut. Masa kemunduran kerajaan Kalingga terjadi karena kerajaan Sriwijaya menyerang kerajaan tersebut dan wilayah perdagangan dikuasainya. Bahkan pada tahun 742 - 755 M, pemerintah Kijen mundur ke pedalaman Jawa Tengah atau dipindahkan ke Jawa Timur karena serangan tersebut. Kerajaan Sriwijaya sebelumnya telah menaklukkan kerajaan Tarumanegara dan Melayu. Perdagangan Sriwijaya Budha ini sebenarnya memiliki pesaing kuat yang terdiri dari ketiga kerajaan tadi.

Peninggalan Kerajaan Kalingga

Setelah membahas tentang sejarah kerajaan Kalingga, selanjutnya saya akan menjelaskan tentang beberapa bentuk peninggalan dari kerajaan Kalingga. Kerajaan ini memiliki beberapa bentuk peninggalan seperti prasasti kerajaan Kalingga dan candi kerajaan Kalingga. Berikut penjelasan selengkapnya:

Prasasti Tukmas
Gambar prasasi tukmas kerajaan kalingga
Gambar prasasi tukmas kerajaan kalingga
Peninggalan kerajaan Kalingga yang pertama ialah prasasti Tukmas. Penemuan prasasti Tukmas berada di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah atau di lereng Gunung Merapi bagian barat. Dalam prasasti kerajaan Kalingga ini terdapat bahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa. Prasasti Tukmas berisi tentang cerita mata air yang jernih dan bersih. Bahkan aliran sungai yang dijadikan sumber air ini disetarakan dengan Sungai Gangga India. Selain itu prasasti Tukmas juga berisi beberapa gambar seperti bunga teratai, Trisula, Kapak, Cakra, kendi, dan Kelasangka sebagai lambang hubungan antara dewa Hindu dan manusia yang erat.

Prasasti Sojomerto
Gambar prasasti sojomerto peninggalan kerajaan kalingga
Gambar prasasti sojomerto peninggalan kerajaan kalingga
Peninggalan dari kerajaan Kalingga selanjutnya ialah prasasti Sojomerto. Penemuan prasasti Sojomerto berada di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dalam prasasti tersebut terdapat bahasa Melayu Kuno dan menggunakan aksara Kawi. Menurut perkiraan prasasti Sojomerto telah ada sejak abad ke 7 Masehi dan memiliki sifat agama Siwais. Prasasti kerajaan Kalingga ini berisi silsilah keluarga dari Dapunta Selendra yakni Santanu (nama ayahnya), Bhadrawati (nama ibunya), dan Sampula (nama istrinya). Namun Dapunta Selendra menurut pendapat Prof. Drs. Boechari ialah asal mula dari penguasa kerajaan Mataram Hindu atas keturunan Wangsa Sailendra. Prasasti Sojomerto terbuat dari batu andesit dengan tinggi 78 cm, panjang 43 cm dan tebal 7 cm. Di dalamnya terdapat 11 baris tulisan namun banyak yang rusak di sebagian barisnya karena faktor usia.

Candi Bubrah
Peninggalan kerajaan Kalingga selanjutnya ialah candi bubrah. Penemuan candi bubrah berada di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Candi ini merupakan salah satu candi di komplek Taman Wisata Candi Prambanan yang bercorak Budha atau lebih tepatnya diantara Candi Sewu dengan percandian Rara Jonggrang. Lerak candi Bubrah secara administratif berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, KabupatenKlaten, Provinsi Jawa Tengah.
Gambar candi bubrah peninggalan kerajaan kalingga
Gambar candi bubrah peninggalan kerajaan kalingga
Candi ini bernama candi bubrah karena dalam bahasa Jawa kondisi candi tersebut bubrah atau rusak saat penemuannya. Pembangunan candi bubrah menurut perkiraan terjadi pada zaman kerajaan Mataram Kuno abad ke 9 atau satu zaman dengan Candi Sewu. Ukuran candi bubrah sekitar 12 x 12 meter dan berasal dari batu andesit. Selain itu ketinggian sisa reruntuhannya saja mencapai 2 meter. Ketika penemuan candi bubrah terdapat arca arca Budha meskipun tidak lagi utuh.

Candi Angin
Peninggalan candi kerajaan Kalingga selanjutnya ialah candi angin. Letak candi angin berada di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Nama candi tersebut ialah candi angin karena jika terkena angin tidak membuat candi ini roboh meskipun letaknya tinggi. Candi angin memiliki usia yang lebih tua dibandingkan Candi Borobudur menurut perkiraan dari para peneliti sejarah. Bahkan candi ini dianggap sebagai candi buatan dari manusia purba karena ornamen Hindu dan Budhanya tidak terdapat didalamnya.

Sekian penjelasan mengenai sejarah kerajaan Kalingga dan peninggalan kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga ialah kerajaan yang berada di pantai Jawa Tengah bagian utara dengan corak Hindu Budha. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung di blog ini.

Silahkan berkomentar
EmoticonEmoticon