Dampak Positif dan Negatif Tanam Paksa Bagi Indonesia dan Belanda Lengkap

Diposting pada

Dampak Positif dan Negatif Tanam Paksa Bagi Indonesia dan Belanda Lengkap – Cultur steltsel atau sistem tanam paksa menjadi peristiwa yang tak akan pernah terlupakan oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, belanda telah mengeksploitasi negara kita selama 360 tahun lamanya.  Berbagai dampak negatif tanam paksa bagi indonesia pun turut dirasakan masyarakat pada masa itu.

Hal sebaliknya tentu dirasakan oleh belanda yang justru merasa diuntungkan berkat sistem tersebut. Semua itu terjadi karena kerajaan Belanda mengalami kondisi keuangan yang cukup mengkhawatirkan. Penyebabnya karena peperangan yang melibatkan antar negara khususnya eropa dan indonesia itu sendiri.

Dampak Sistem Tanam Paksa Bagi Indonesia dan Belanda
Dampak Sistem Tanam Paksa Bagi Indonesia dan Belanda

Biaya yang dibutuhkan Belanda untuk terlibat dalam peperangan memang sangat besar pada masa kejayaan dari Napoleon. Kemudian pada tahun 1830, kas kerajaan Belanda mulai terkuras lagi karena terjadi peperangan antara Belanda dan Belgia yang membuat Belgia memisahkan diri. Sejak tahun 1825 – 1830, biaya yang dihabiskan dalam peperangan Diponegoro sekitar 20 juta golden. Inilah awal mula dampak negatif tanam paksa bagi indonesia yang disebabkan oleh perang.

Bagi kas kerajaan Belanda, perlawanan Belanda yang dilakukan terhadap rakyat Indonesia tergolong paling mahal. Pada akhirya kas negara menjadi kosong karena semua konflik tadi dan bahkan sangat banyak hutang Belanda yang perlu di bayarkan. Kali ini saya akan menjelaskan tentang dampak tanam paksa untuk kedua belah pihak baik indonesia dan belanda.

Dampak Positif dan Negatif Tanam Paksa Bagi Indonesia dan Belanda Lengkap

Sebelum menjelaskan tentang dampak tanam paksa bagi Indonesa dan Belanda. Saya akan menjelaskan sedikit mengenai sistem tanam paksa tersebut. Dalam sistem tanam paksa terdapat peratuan yang mewajibkan perorangan dan setiap desa untuk menyisihkan 20% tanahnya sebagai bentuk penjajahan agar dapat digunakan sebagai lahan penanaman komoditi ekspor. Selain itu pemerintah kolonial juga akan membeli hasil pertanian tersebut dengan ketetuan harga yang telah disepakati. Pemerintah kolonial ini nantinya akan menerima hasil panen yang diserahkan oleh rakyat Indonesia. Lalu bagaimana jika rakyat tidak memiliki tanah atau lahan?

Baca juga : 3 Penyebab Tragedi Trisakti Tahun 1998 Lengkap

Bagi rakyat yang tidak mempunyai lahan atau tanah, maka dalam setahun selama 66 – 75 hari harus bekerja di kebun milik pemerintah kolonial. Dampak tanam paksa bagi Indonesia sendiri sangat kejam jika dibandingkan dengan monopoli perdagangan yang dilakukan oleh pemimpin VOC pada saat Indonesia awal dijajah Belanda. Namun sistem ini memiliki dampak tanam paksa di Belanda yang cukup menguntungkan. Pada saat peraturan sistem tanam paksa di terapkan, banyak sekali rakyat yang sengsara dan menjadi korban jiwa serta korban harta.

Sistem Tanam Paksa

Dampak Cultur Stelsel memang cukup dirasakan oleh kedua negara ini. Bahkan di kala itu Pulau Jawa dianggap oleh Van den Bosch sebagai daerah yang cukup menguntungkan untuk Belanda. Hal ini dikarenakan potensialnya kepadatan penduduk untuk menjadi pekerja. Lahannya yang subur sehingga dapat diolah sebagai perkebunan maupun pertanian juga menjadi daya tarik tersendiri.

Latar belakang pendirian VOC sendiri ialah Sumber Daya Alam yang kaya dan suburnya lahan lahan di Indonesia. Para pegawai Belanda mengawasi sistem tanam paksa secara langsung. Namun banyak sekali penyimpangan yang terjadi pada pelaksanaannya sehingga rakyat cukup dirugikan.

Untuk memahami dampak negatif tanam paksa bagi indonesia kita wajib mengetahui dulu berbagai bentuk penyimpangan sistem di bawah:

  • Kebutuhan ladang milik rakyat sendiri cukup diabaikan karena cenderung mengutamakan kegiatan penamaman tumbuhan ekspor yang berkualias.
  • Dalam peraturan awal terdapat ketentuan untuk bekerja melebihi jumlah waktu dan sangat keras bagi rakyat yang tidak mempunyai lahan. Dengan begitu mereka tidak akan mempunyai waktu untuk mencari pekerjaan lain dalam memperoleh nafkah.
  • Penanaman tanaman ekspor yang menggunakan lahan tersebut memiliki jumlah seperlima luas lahan garapan yang lebih banyak.
  • Tanah yang tidak subur disisakan bagi rakyat.
  • Petani tidak memperoleh pengembalian hasil panen yang lebih.
  • Hasil panen yang gagal selalu ditanggung oleh rakyat meskipun bukan kesalahan mereka.
  • Semakin bertambahnya beban rakyat karena target produksi yang dilakukan Belanda berhasil dilampaui sehingga pemerintah dapat memperoleh hadiah tertentu.
  • Pajak juga diberikan bagi lahan garapan dalam sistem tanam paksa ini.

Dampak Negatif Tanam Paksa Bagi Indonesia

Peristiwa tanam paksa oleh belanda maupun oleh jepang tentu meninggalkan bekas tersendiri dalam sejarah bangsa kita. Baik rodi atau romusha menjadi perbuatan penjajah yang akan terus dikenang sebagai pelajaran hidup berbangsa. Kegiatan tanam paksa yang dilakukan belanda dan jepang tersebut ternyata juga menimbulkan dampak negatif baik dari psikologis maupun fisik bangsa Indonesia kala itu.

Baca juga : Sejarah Pertempuran Ambarawa, Medan Area, dan Bandung Lautan Api Singkat

Dampak tanam paksa bagi Indonesia yang pertama berupa dampak negatif. Berbagai penyimpangan yang terjadi dalam sistem tanam paksa ini menimbulkan dampak bagi rakyat karena kehidupan mereka sangat disengsarakan. Akibat eksplorasi luar biasa terhadap sumber alam menyebabkan beberapa dampak sistem tanam paksa di Indonesia seperti di bawah ini:

  1. Tidak terurusnya ladang dan sawah milik rakyat sehingga hasil panennya tidak layak. Selain itu penghasilan rakyat juga sangat menurun dalam kehidupan sehari hari dikarenakan kewajiban rakyat dalam melakukan kerja rodi.
  2. Semakin sulitnya dan beratnya beban hidup rakyat karena sebagian tanah miliknya harus diserahkan, hasil panen, kerja paksa, membayar pajak dan resiko kegagalan panen yang perlu ditanggung.
  3. Secara mental dan fisik, rakyat mengalami tekanan berkepanjangan. Hal ini sebabkan oleh kehidupan rakyat yang terbebani dengan berbagai kebijakan dari pemerintah Belanda.
  4. Semakin sengsaranya rakyat karena dimana mana terdapat kemiskinan yang merajalela sehingga nafkah tidak dapat dicari dan hasil panen yang gagal.
  5. Dimana mana terdapat masalah kelaparan dan wabah penyakit di Cirebon.

Setelah indonesia merdeka tentu sudah tidak ada kegiatan tanam paksa lagi. Namun dampak negatif tanam paksa tersebut tetap dirasakan selama beberapa tahun setelah negara kita merdeka. Dari semua dampak buruk diatas tentu menyimpan suatu makna. Makna inilah yang bisa menjadi alternatif dan mengubah dari yang negatif menjadi sesuatu yang lebih positif.

Dampak Positif Tanam Paksa Bagi Indonesia

Meski mempunyai sisi negatif tapi kita tak bisa menampik fakta bahwa tanam paksa juga menimbulkan sedikit dampak positif bagi indonesia. Sedikit kebaikan dalam kesengsaraan rakyat itu nantinya akan berguna bagi masa depan Indonesia dalam dunia pertanian.

Akan tetapi bayaran atas dampak tersebut cukup mahal karena para penduduk harus mengalami sistem tanam paksa bertahun tahun. Adapun beberapa dampak positif tanam paksa bagi Indonesia yang yaitu sebagai berikut:

  1. Berbagai teknik penanaman dapat dikenal dan diketahui oleh rakyat untuk kategori jenis tanaman yang baru.
  2. Jenis tanaman yang berpotensi untuk diperdagangkan dan diekspor dapat diketahui oleh rakyat.

Hingga saat ini masyarakat Indonesia bisa belajar berbagai metode bercocok tanam sesuai dengan wilayah mereka. Inilah salah satu dampak positif tanam paksa oleh jepang atuapun belanda yang terjadi dimasa lampau.

Dampak Tanam Paksa Bagi Belanda

Setelah membahas tentang dampak negatif dan positif tanam paksa bagi Indonesia. Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang dampak tanam paksa bagi Belanda. Pada dasarnya rakyat Indonesia memang mengalami kesulitan dan kerugian yang banyak. Namun sistem tanam paksa untuk negara Belanda malah sangat menguntungkan seperti:

  • Kerajaan Belanda memperoleh keuntungan yang berlipat ganda dan bahkan membuat kasnya menjadi penuh. Meskipun sebelumnya kas Belanda telah kosong dan bahkan minus.
  • Sistem tanam paksa ini menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada anggaran belanja kerajaan.
  • Dapat melunasi hutang hutang yang cukup besar.
  • Semakin berkembang pesatnya kegiatan ekonomi dan perdagangan Belanda sehingga dapat dijadikan pusat kota perdagangan dunia di Amsterdam yang sukses.

Akhir Tanam Paksa

Selain dampak tanam paksa di Indonesia dan dampak tanam paksa bagi Belanda di atas. Adapula penjelasan mengenai akhir dari sistem tanam paksa tersebut. Sistem tanam paksa yang dilakukan oleh Belanda memang sesuai dengan tujuannya dan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Namun pemerolehan semua itu didasarkan pada penindasan rakyat di wilayah jajahan sehingga kekejaman dari penjajahan Belanda dikala itu cukup terasa.

Berbagai dampak negatif tanam paksa bagi Indonesia cukup memeras dan menyiksa rakyat. Hal ini menyebabkan berbagai kalangan Indonesia maupun Belanda melakukan pertentangan akibat ketentuan peraturan tersebut. Kebijakan tanam paksa tersebut pernah ditentang oleh tokoh terkenal yang bernama Edward Douwes Dekker. Ia pernah menjabat sebagai Asisten Residen Lebak dan sekarang menjadi salah satu penjabat dalam kerajaan Belanda.

Baca juga : Pengertian Animisme dan Dinamisme Beserta Contohnya

Kesengsaraan penduduk pribumi memang memperoleh simpati dari Edward Douwes Dekker akibat dari pelaksanaan sistem tanam paksa ini. Kemudian Edward Douwes Dekker menceritakan akibat sisem tanam paksa yang dirasakan oleh rakyat melalui sebuah buku dengan judul samaran yaitu “Multatuli”. Nama Multatuli sendiri maknanya ” Aku Telah Menderita Cukup Banyak”. Setelah itu terbit buku lainnya yang judulnya Lelang Kopi Persekutuan Belanda dan Max Havelaar. Buku buku ini menjadi bukti dampak negatiftanam paksa bagi Indonesia dan positif untuk Belanda. Selain itu sistem tanam paksa juga ditentang oleh seorang misionaris yang pada tahun 1847 pernah tinggai di Indonesia yaitu Baron van Hoeve.

Baron van Hoeve melihat bagaimana sistem tanam paksa membuat rakyat sengsara selama ia melakukan perjalanan menuju Jawa, Bali dan Madura. Kemudian Baron van Hoeve melakukan protes setelah menjadi anggota parlemen Belanda lagi. Ia menuntut sistem tanam paksa untuk dihapus dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesai dengan gigih. Hal ini dikarenakan dampak sistem tanam paksa bagi Indonesia dan dampak sistem tanam paksa bagi Belanda cukup besar.

Selain itu berbagai tokoh masyarakat dan dunia Internasional melakukan aksi protes yang berlangsung bertubi tubi sehingga secara bertahap sistem tanam paksa ini dihapuskan oleh Belnada. Pada tahun 1865 mulai ada penghapusan nila, teh dan kayu manis. Kemudian pada tahun 1866 mulai menghapus tembakau serta pada tahun 1884 menghapus tebu. Setelah itu pada tahun 1917 baru menghapuskan hasil komoditi paling menguntungkan dan paling laris yang berupa kopi.

Sekian penjelasan mengenai dampak tanam paksa bagi Indonesia dan Belanda yang dapat saya sampaikan. Dampak sistem tanam paksa ini pada ahirnya dapat dihentikan dan dihapuskan secara bertahap karena aksi protes yang bertubi tubi dari berbagai tokoh mayarakat maupun di dunia Internasional. Semoga arikel ini dapat bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung di blog ini.

Baca Juga  Sejarah Kerajaan Singasari (Kehidupan Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.